"Mencintai seseorang yang telah pergi,
ibarat menunggu hujan di padang pasir.
Bukan tidak mungkin,
tetapi kecil kemungkinan didapat."
-AT2H
I got to find a partner for sing “two is better then one” or maybe “something stupid” together.
…….
Tentang Dia (Yang Sepi dan Luka)
Entahlah. Tapi akhir-akhir ini dia sepertinya sangat kesepian. Baru sadar, ternyata tidak ada yang benar-benar dekat dengannya. Tidak ada yang benar-benar memahaminya. Bahkan aku sekalipun tidak.
Aku melihatnya berjalan sendirian dengan segunung beban dipundaknya. Entah karena dia menginginkan memiliki itu atau mungkin beban itu telah memilihnya sejak dia dilahirkan di muka bumi ini.
Aku merasakan dia tertatih dalam kesendirian. Tak ada sahabat atau teman atau musuh yang bisa diajaknya berbagi amarah, sesosok emosinya yang meluap-luap karena kejenuhan.
Aku mendengarnya terisak di tengah malam. Lirih menginginkan dia diistimewakan. Bukan karena fisiknya yang lemah atau karena pemikirannya yang cerdas. Tapi karena dia adalah dirinya.
Aku mencium hawa kepedihan dari jiwanya. Udara kesepian, kejenuhan dan ketakutan menanggung beban bercampur jadi satu di dalam ruhnya. Dia berkata-kata. Dia tertawa. Dia tersenyum. Pahit rasanya.
Aku menyentuh lukanya sejak beberapa waktu silam. Merusak benang-benang sel yang baru mulai menutup. Lalu aku membiarkannya. Tiada berusaha mengobati sebab tak tahu caranya.
Tapi dia tidak pernah mengeluh. Mungkin karena dia tidak suka pada seseorang pengeluh. Atau karena dia tidak mempunyai tempat untuk mengeluh?
Tapi dia tidak pernah menyalahkanku. Mungkin karena memang aku tidak bersalah. Atau karena memang dia merasa tidak pantas menyalahkan siapapun atas apa yang menimpanya?
Entahlah. Aku tak secerdas itu memahami apa yang dipikirkan seseorang serumit dia. Aku juga tidak mempunyai inisiatif menyembuhkan lukanya. Aku hanya bisa diam. Melihatnya, merasakan, mendengarnya. Dan aku ingin kelak saat aku tersenyum padanya, dia bahagia.

